Kebebasan demokrasi perlu diperjuangkan lebih besar lagi, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Itulah yang dikatakan oleh Arch Puddingtion, seorang veteran asal Amerika Serikat yang gencar mengkampanyekan hak sipil dan politik di seluruh dunia. Minggu ini, alasan keprihatinannya menjadi jelas. Freedom House, sebuah kelompok lobi yang berbasis di Washington D.C. (dimana Puddington adalah direktur risetnya), telah menuliskan dalam penilaian tahunannya bahwa kebebasan dan HAM telah mengalami kemunduran secara global dalam kurun waktu 4 tahun berturut-turut belakangan ini. Ia mengatakan bahwa hal ini menunjukkan kemunduran terlama bagi kebebasan sejak organisasi ini mulai membuat laporan hampir 40 tahun lalu.
Freedom House mengklasifikasikan negara-negara sebagai “bebas”, “separuh bebas” atau “tidak bebas” berdasarkan indikator-indikator yang merefleksikan kepercayaan bahwa kebebasan politik dan HAM berhubungan satu sama lain.
Dalam laporannya tersebut yang berjudul “Freedom in the World 2010: Global Erosion of Freedom”, kelompok ini menemukan bahwa penurunan kebebasan mulai terjadi tahun lalu di 40 negara (Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan ex-Uni Soviet), sementara kenaikan terjadi di 16 negara lainnya.
Ket. gambar: Tingkat kebebasan dunia tahun 2010 - Untuk lebih jelasnya, silakan kunjungi: http://www.freedomhouse.org/
Dilihat secara keseluruhan, penemuan-penemuan ini menunjukkan bahwa penurunan terjadi sekitar 20 tahun lalu, sejak jatuhnya komunisme Soviet, jatuhnya apartheid, yang telah meyakinkan orang bahwa kebebasan demokrasi terbukti tidak baik.
Menurut Transparency International, hampir seluruh negara yang korup di dunia adalah negara demokrasi (pengecualian untuk Singapura dan Hong Kong – karena mereka dianggap semi-demokratik).
Hubungan antara sistem politik dan pertumbuhan adalah sulit untuk dikaitkan. Namun ada bukti bahwa rata-rata, demokrasi berjalan baik di negara-negara tersebut. Studi yang dilakukan oleh Morton Halperin, Joseph Siegel, dan Michael Weinstein untuk Council for Foreign Relation (CFR), dengan menggunakan data World Bank antara tahun 1960-2001, menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi rata-rata adalah sebesar 2,3% untuk negara demokrasi dan 1,6% untuk negara otokrasi.
Hal yang terpenting adalah bahwa demokrasi membutuhkan pemimpin dengan kemampuan untuk melakukan kompromi. Tanpa adanya sifat toleransi, tenggang rasa, dsb., maka kelompok-kelompok rival dapat dengan mudah merubah demokrasi menjadi sebuah perjuangan untuk merebut kekuasaan secara paksa yang berujung negatif. Demokrasi lebih cenderung berhasil di negara-negara yang memiliki sifat toleransi tinggi, perasaan kebersamaan dan sifat memiliki tanpa adanya konflik etnik/budaya yang bisa memecah belah. Namun demikian, demokrasi juga tidak akan terwujud tanpa didukung oleh pemerintahan yang bersih dan kapabel.
Untuk peta perbandingan tingkat kebebasan dunia dari tahun-tahun sebelumnya, silakan kunjungi Freedom House.