Wawancara MataAir dengan Mr. Rainer Heufers (Project Director FNS Indonesia): "“Yang Terjadi Sekarang, Islam dan Eropa Sedang Bergerak Bersama ”
Berikut adalah wawancara yang dilakukan oleh Tim MataAir dengan Mr. Rainer Heufers, Project Director, Friedrich Naumann Stiftung Indonesia yang dimuat dalam Buletin MataAir Edisi 6. Topik dari wawancara itu sendiri adalah: “Yang Terjadi Sekarang, Islam dan Eropa Sedang Bergerak Bersama”
Wawancara
Rainer Heufers (Project Director, Friedrich Nauman Stiftung Indonesia)
“Yang Terjadi Sekarang, Islam dan Eropa Sedang Bergerak Bersama ”
Bagaimana pendapat anda tentang meletusnya demonstrasi anti-Islamisasi yang terjadi di Eropa seperti di Belgia dan Austria?
Saya tidak begitu mengikuti demonstrasi ini secara detil. Tetapi, apa yang terjadi di Belgia, seperti yang anda gambarkan tadi, juga terjadi di negara Eropa lainnya. Yang terjadi sekarang adalah ajaran dan budaya Islam semakin dekat dengan Eropa dan mereka bergerak bersama. Namun, ada sebagian masyarakat yang tidak nyaman dengan kondisi ini, dan dimanapun kita akan temukan demonstrasi “lokal” menentang tren-tren ini. Seperti halnya, di Jerman kita mempunyai komunitas muslim. Mereka ingin membangun masjid, dan tentunya ini dilindungi hukum. Cuma, mereka membangun masjid ditengah komunitas yang tidak familiar dengan Islam. Sebagian kecil orang-orang Jerman itu tidak tahu untuk apa bangunan masjid dan apa itu Islam. Itulah alasannya kenapa terjadi demonstrasi penentangan itu. Sebenarnya, ini merupakan demonstrasi yang sifatnya kecil dan lokal. Saya tidak melihat adanya kekuatan besar yang berskala nasional.
Ada yang melihat munculnya gejala benturan peradaban antara Islam dan Barat
Saya ingin melihat ini dengan berbeda. Yang kami punya sekarang adalah sebuah perkembangan yang pesat dimana Islam dan Kristen di Eropa sedang mencari jalan untuk bisa hidup saling berdampingan. Dulu, hal semacam ini tidak pernah terjadi. Dari dulu entitas Eropa adalah Kristen. Baru setelah peristiwa 11 September, masyarakat lebih peduli dengan komunitas muslim di Eropa.
Apakah lalu mereka menganggap Islam sebagai ancaman?
Bukan ancaman. Saya tidak akan setuju dengan kesimpulan itu. Sebabnya, masyarakat umum tidak memahami Islam, tidak ada informasi tentang Islam di Eropa. Anda bisa berbicara ke siapapun di Eropa, tidak ada yang tahu apa itu Islam, kecuali ketika ada bom meledak di negara muslim atau seorang teroris yang muslim sedang memasang bom di Eropa. Mereka hanya tahu Islam dari sudut pandang itu. Jadi, Islam di Eropa masih asing dan dianggap berpotensi mengganggu. Makanya, saya tidak menganggap ini sebagai sebuah ancaman, akan tetapi karena Islam dianggap sebagai sesuatu yang “unknown’.
Bagaimana masyarakat Jerman memandang kehadiran imigran Turki?
Ini adalah pertanyaan sulit, tentunya banyak faktor terkait dengan masalah ini, dan kita harus memisahkan satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam. Pertama, warga Turki datang ke Jerman sebagai pekerja. Pada saat tenaga mereka dibutuhkan, tentunya pada saat itu, semua menyambut dengan bahagia setelah perang dunia. Namun, ketika Jerman semakin maju banyak orang bertanya, kenapa mereka masih di sini? Mereka membawa keluarganya dan tidak ingin kembali ke negara asalnya, lantaran mereka mempunyai masalah politik di negaranya. Hal ini sangat bisa dipahami. Dan ini tidak ada kaitannya dengan Islam, melainkan hanya masalah migrasi demi kepentingan ekonomi.
Jadi, bukan karena kebetulan imigran Turki beragama Islam, tapi semata-mata karena mereka sebagai imigran yang mengadu nasib di Jerman.
Benar sekali, bukan masalah keislaman mereka, lebih karena tradisi mereka. Mereka memakan bawang putih, tidak ada orang Jerman yang memakan bawang putih. Dengan begitu aroma tubuh, rumah dan dapurnya juga berbeda. Orang Jerman merasa aneh dengan aroma seperti ini. Tapi, ini masalah masa lalu. Sekarang, Jerman sudah merasa familiar dengan aroma bawang putih. Hal ini sudah tidak menjadi masalah sama sekali. Sekarang anda punya masalah lain, seperti di Perancis tiga tahun yang lalu, tepatnya di Paris, penduduk dari golongan miskin Paris melakukan demonstrasi melawan polisi. Ini tidak ada kaitannya dengan Islam. Ini adalah masalah imigran yang merasa terpinggirkan di Perancis dan mereka marah kemudian menyuarakan kemarahannya. Kondisi serupa juga terjadi di Jerman.
Soal keterpinggirkan dari tatanan sosial, apa karena para imigran yang bermasalah atau penduduk asli yang membuat masalah?
Ini adalah masalah kompleks, kedua-duanya ambil peranan di sini. Saya memulai dengan masalah dari sudut pandang orang Eropa dan Jerman. Pemerintah lambat dalam menyatukan mereka sebagai sebagai komunitas. Di Jerman sendiri, jika dihitung lebih dari tiga juta adalah muslim, termasuk dari negara-negara bekas Yugoslavia. Tapi, hanya sekitar 400.000 diantara mereka yang mempunyai kewarganegaraan Jerman, selebihnya mereka di beri kelonggaran dengan visa, dan mereka bukan berstatus warga negara Jerman. Berarti, hanya sekitar 15% dari mereka yang mempunyai hak untuk mencoblos. Dengan suara kecil itu, partai politik tidak tertarik kepada dukungan mereka. Jika pemerintah Jerman memberi status kewarganegaraan, mereka akan dapat memperoleh hak-hak politiknya dan dengan sendirinya suaranya akan signifikan, sehingga partai politik akan memberi perhatian lebih kepada mereka. Di Inggris, kondisinya lebih bagus karena lebih dari 50% imigran mempunyai kewarganegaraan, seperti juga di Belanda. Kondisi di Jerman, Italia dan Spanyol hampir mirip karena pemberian kewarganegaraan kepada para imigran sangat sedikit. Namun, sekarang mulai berubah, karena masalah ini tidak statis, tapi dinamis. Pemerintah Jerman mulai memahami kondisi ini dan muslim mulai mendapatkan hak politiknya. Dari sudut pandang imigran juga mempunyai masalah, mereka ingin menjaga tradisinya. Akan tetapi, masalahnya mereka mencampur adukkan antara agama dan tradisi. Coba anda bayangkan, seseorang yang hidup di sebuah desa terpencil di Turki, kemudian hidup di pusat kota Berlin. Mereka ingin tetap menjaga tradisinya dan bilang bahwa ini adalah ajaran agama kami, kami bebas meyakini ajaran agama. Tapi, kita tidak bisa mengurung anak perempuan anda di rumah dan melarang dia untuk pergi ke sekolah. Di Jerman, kebanyakan orang Turki melarang anak perempuannya untuk bergabung dalam olahraga dan kegiatan sekolah. Sekarang, pemerintah menganjurkan mereka mengirim anak perempuannya untuk bergabung dalam olah raga dan mengikuti sistem pendidikan Jerman. Ini sudah menjadi diskusi terbuka di Jerman. Hanya saja, para orang tua muslim bilang, saya tidak ingin mengirimkan anak perempuan saya untuk mengikuti sekolah dan program ekstra-kulikulernya seperti perkemahan hingga menginap di luar dan lain-lain. Hal inilah yang membedakan dengan kultur Jerman. Di Jerman, anak-anak dididik untuk independen dan kritis. Sebaliknya, orang tua muslim mengharap anaknya agar patuh kepada orang tua dan mengikuti jejak orang tuanya. Ini tidak ada kaitannya dengan agama sama sekali, melainkan semata masalah budaya.
Apa betul muslim di Eropa lebih konservatif ketimbang di negara muslim sendiri?
Gejala ini normal, Saya pernah menemukan sebuah komunitas Jerman di Brazil, ternyata mereka lebih Jerman ketimbang orang yang tinggal di Jerman. Mereka mempunyai tradisi yang di Jerman sudah tidak ada beberapa puluh tahun yang lalu. Mereka menjaga tradisi itu karena mereka tidak ingin berasimilasi dengan tradisi Brazil. Padahal, di Jerman kami pergi ke Mc.D dan nonton film-film Hollywood. Makanya, saya tidak heran apabila imigran Turki di Jerman ingin menjaga tradisinya lebih dari yang terjadi di Turki. Mereka merasa ada pressure dari kaum mayoritas untuk menjadi seperti mereka, tetapi mereka ingin tetap menjadi seorang Turki. Ini memang agak sulit.
Ada banyak pendapat bahwa Islam berkembang dengan cepat di Eropa
Saya tidak yakin dengan pendapat ini. Apa yang terjadi di Eropa dalam kurun 10 tahun terakhir ini adalah Eropa sedang bangun. Sepuluh tahun yang lalu, Eropa masih tertidur, sampai pada rangkaian peristiwa 11/9, bom London dan bom Spanyol. “Oh, ternyata kita punya 20 juta muslim di Uni Eropa, kita harus melakukan sesuatu.” Ini bukan berarti Islam semakin kuat di Eropa. Dulu, kami tidak memandang fenomena ini secara serius, namun kini kami memandangnya dengan serius. Menurut saya, ini bukan berarti muslim di Eropa lebih taat ketimbang sebelumnya atau Eropa lebih Islami. Sekarang, kami harus menyikapi sebuah fakta bahwa populasi muslim di Uni Eropa adalah sekitar 10%, sebuah angka yang besar.
Apa diantara penduduk asli Jerman banyak yang memeluk Islam lewat pengaruh imigran?
Ada memang, tetapi tidak banyak. Biasanya mereka lebih konservatif ketimbang muslim pada umumnya dan juga sangat kaku.
Islam madzhab apa yang dominan di Jerman?
Islam sunni lebih dominan di sana. Ada juga sejumlah Sufi, tetapi tidak terlalu banyak. Kita juga mempunyai hubungan baik dengan Iran. Di Jerman terdapat juga sejumlah kaum syiah. Namun, yang paling dominan tetaplah sunni yang terdiri dari imigran Turki, Bosnia, Syria dan Lebanon.
Apa kerap terjadi konflik di antara mereka?
Tidak banyak terjadi.
Berarti mereka bisa bersama-sama dalam satu masjid?
Mereka tidak mempunyai pilihan, tidak ingin ke masjid sama sekali atau ke masjid “lain”. Saya ingin menyampaikan bahwa mereka masing-masing membawa ajaran atau nilai-nilai dimana mereka berasal. Misalnya, orang-orang Turki akan membawa ajarannya dan bersama dengan komunitasnya membangun masjid dengan menggunakan bahasa Turki. Begitupun orang Libanon, Syria dan lainnya. Jadi, anda harus melihat ini sebagai sebuah komunitas imigran yang kemudian membangun pusat kebudayaannya masing-masing dan menurut saya Islam begitu penting bagi mereka sebagai “kumpulan nilai-nilai”. Lebih penting lagi, mereka datang dari daerah tertentu dan membawa nilai-nilai leluhurnya, sehingga mereka terhubungkan pada nilai-nilai tersebut. Di lain pihak, Jerman menyadari bahwa ini tidaklah bagus, karena mereka membangun masjid dan masih menggunakan bahasa mereka berasal, baik itu bahasa Turki atau Arab. Kami tidak paham dengan bahasa tersebut. Dan kini, Pemerintah Jerman mulai melatih para imam di universitas-universitas untuk dapat menggunakan bahasa Jerman dalam menyampaikan ajarannya.
Adakah institusi pendidikan agama non-formal di Jerman?
Ya. Kami mempunyai masjid yang dekat kota Bonn, namanya King Fahd Academy, seperti pesantren dimana mereka mengajarkan anak-anak tentang agama. Namun, kemudian mereka mengajarkan kebencian-kebencian. Nah, pemerintah lantas ingin menutup akademi itu. Untung, pemerintah jadi urung. Mereka dibiarkan keberlangsungannya dengan kontrol yang ketat. Tren baru sekarang di Jerman adalah pemerintah melatih para imam dengan bahasa Jerman. Tren baru lagi adalah kelompok-kelompok Islam dapat secara langsung meramu pendidikan agama di sekolah-sekolah Jerman. Umat lain seperti Kristen, Katolik dan Yahudi telah secara resmi menjadi agama yang terdaftar di pemerintah. Ketika sebuah agama terdaftar, maka mereka dapat menyusun kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah Jerman. Islam tidak terdaftar, karenanya tidak ada satu otoritas yang mewakili seluruh muslim. Kelompok Islam beragam karena mereka imigran. Muslim Turki mempunyai pimpinan sendiri, begitu juga muslim Libanon dan lainnya. Kami mempunyai lima kelompok Islam di Jerman. Mereka dianjurkan untuk memiliki satu otoritas guna bernegosiasi dengan pemerintah.
Menurut anda bagaimana masa depan hubungan Islam dengan Barat?
Kita akan semakin banyak mempunyai konflik. Dan ini adalah tema baru. Seperti yang saya singgung tadi bahwa Eropa sedang bangun dari tidurnya. Pada tataran lokal kita mempunyai benturan saat anda membangun sebuah masjid. Kita mempunyai beberapa politisi yang tidak begitu membantu hubungan ini. Seperti yang sekarang terjadi, beberapa politisi Jerman merekomendasikan aturan bahwa tidak diperbolehkan sebuah masjid yang tingginya melebihi bangunan gereja. Kita merasakan adanya potensi konflik. Namun, menurut saya kita sebenarnya butuh konflik itu. Konflik merupakan sesuatu yang positif, karena dari konflik kita dapat berbagi dalam memecahkan masalah. Saya merasa optimis dengan pola hubungan ini, meski masih membutuhkan waktu untuk melewati konflik-konflik. (mfa).
agung dari 193.205.206.22 pada 13 Pebruari 2008: Informasi dari artikel ini cukup menarik. Jerman lebih terbuka terhadap masuknya umat Islam. Saat ini saya tinggal di Italy, di negara ini lebih ekstrim di bandingkan negara Eropa lain. Masyarakat berupaya mencegah umat Islam untuk tidak membangun mesjid. Padahal kebutuhan terhadap mesjid sangat besar. Diperkirakan ada 1, 5 juta umat Islam di Italy. Beberapa poster yang menghubungan pembangunan Islam dengan Osama Bin Laden banyak tersebar. Namun justru banyak orang Italy yang masuk Islam.
(c) 2010 Forum-Politisi.org
Forum Politisi Indonesia politik dalam negeri kebeasan FNS FNF