09 September 2010    
Pencarian
Beranda
Tentang FKPPR
Aktivitas
Berita
Artikel
Pusat Data
Album Foto
Suara Muda Demokrasi
Buku Tamu
Agenda
Links
Arsip
Quiz
 

Download Center
Wawancara Radio Singapore International (RSI) tentang Pelatihan Blogging untuk Politisi
Laporan Survei Posko Pilkada DKI Jakarta 2007
Selengkapnya » 

Suara Muda Demokrasi
Politik Simbolisme   

Artikel


Jarak Antara Warga dan Ekonomi Melebar: Mayoritas masyarakat tidak percaya bahwa keuntungan yang diperoleh pihak perusahaan berbanding lurus dengan kepastian lapangan kerja (Oleh Profesor Dr. Renate Köcher)

Sebuah artikel menarik dari Harian Frankfurter Allgemeine (20/12/2006) yang membahas mengenai melebarnya jarak yang terjadi antara warga dan ekonomi di Jerman.

Satu kelebihan penting negara Jerman adalah adanya kedamaian sosial yang berpijak pada beberapa pilar, yakni pada tingkat kesejahteraan negaranya, jaminan terhadap keadaan yang mengancam eksistensi rakyat atau kemelaratan dan pada makna besar yang diukur pada konsensus dan keseimbangan sosial.

Cita-cita ekonomi idealnya bukan ekonomi pasar yang bebas, melainkan ekonomi pasar yang sosial yang merupakan ikhtiar untuk menghubungkan efisiensi sistem ekonomi pasar dengan kepentingan sosial dan keseimbangan sosial. Di tahun-tahun pertama ketika Jerman bangkit dari puing-puing pasca perang bangsa ini menjadi salah satu bangsa yang paling sukses ekonominya dan terbiasa dengan kesejahteraan yang terus bertambah. Pada saat itu efisiensi ekonomi dan kepentingan sosial dirasakan masih merupakan tujuan yang sejalan. Ekonomi dan negara sosial, laba perusahaan dan upah tumbuh bersama selama berpuluh-puluh tahun. Fakta ini menutupi konflik-konflik tujuan yang terus mengancam untuk waktu yang lama walaupun tidak sampai muncul ke permukaan. Mayoritas masyarakat pada saat itu tidak hanya yakin bahwa tingkat yang tinggi akan jaminan sosial tidak bisa dibiayai tanpa pajak dan potongan-potongan yang tinggi pula, tapi mereka juga berpendapat kecil kemungkinan jaringan sosial yang padat akan berdampak negatif terhadap peluang ekonomi.

Konflik-konflik tujuan ini baru disadari dengan banyaknya perdebatan tentang reformasi dalam dekade terakhir dan dengan makin banyaknya upaya membuat roda ekonomi berjalan dengan lebih efisien dan upaya peningkatan produktifitas. Kesadaran ini antara lain membuat masyarakat mendapat kesan bahwa tidak ada keselarasan antara cita-cita ideal dengan kenyataan. Pada akhir tahun 90-an mayoritas mayarakat masih menilai bahwa tatanan ekonomi Jerman berhasil mengombinasikan kekuatan pasar dengan urusan sosial. Saat ini sebagian besar rakyat menolak Jerman memiliki ekonomi pasar yang sosial; hanya 24 persen penduduk yakin dengan sistem pasar ini, sementara 62% punya kesan bahwa sistem ekonomi pasar sosial telah dihapus atau tidak pernah ada (lihat grafik di bawah).

Pada saat yang sama keyakinan masyarakat bahwa kesuksesan perekonomian juga akan berdampak baik kepada sebagian besar orang ternyata menurun. Hanya 27% percaya bahwa rakyat diuntungkan apabila perekonomian baik. Mayoritas yang cukup besar, yakni 66% dari seluruh penduduk, bahkan kini berpendapat bahwa keadaan perusahaan bisa saja sangat baik tanpa masyarakat ikut merasakan keuntungannya.

Selama beberapa dekade adalah hal umum bahwa perusahaan-perusahaan yang sedang menanjak membutuhkan tambahan personalia. Masyarakat pun terbiasa dengan itu. Kini mayoritas masyarakat menjadi bingung karena walaupun sukses banyak perusahaan tetap membuat pengumuman mengurangi jumlah karyawannya. Bahkan di perusahaan-perusahaan – ini fakta yang tak bisa dipahami masyarakat -yang keadaannya baik tidak ada jaminan lapangan kerja karyawannya aman.  Keadaan ini membuat 72% masyarakat cemas. Jumlah persentase ini jauh lebih besar daripada mereka yang mengkhawatirkan pemotongan tunjangan sosial, potensi konflik antara dunia barat dan Islam, ancaman serangan teroris atau perubahan iklim. Pemotongan tunjangan sosial hanya membuat 58% masyarakat cemas, pemanasan global hanya 54%, ancaman serangan teroris 48% (lihat tabel).

Strategi agar perusahaan-perusahaan Jerman bisa lebih bersaing di dunia internasional dengan meningkatkan produktifitas secara konsekuen dianggap oleh banyak orang umumnya sebagai ancaman ketimbang sebagai jaminan terhadap lapangan kerja. Kata-kata kunci seperti rasionalisasi dan globalisasi merupakan momok bagi mayoritas masyarakat. 72% merespon istilah rasionalisasi secara spontan dengan sikap antipati, 58% menunjukkan respon yang sama terhadap kata globalisasi.

Dalam rangka reformasi negara sosial restrukturisasi yang mendasar terhadap perusahaan-perusahaan makin meyakinkan bahwa perekonomian dan masyarakat memiliki kepentingan yang berlawanan dan tak bisa disatukan. Dua tahun yang lalu 52% masyarakat masih berpendapat bahwa ekonomi dan penduduk harus berada dalam satu kapal. Saat ini hanya 40% saja yang masih beranggapan seperti ini. Sebaliknya persentase masyarakat yang yakin bahwa kepentingan ekonomi dan masyarakat itu tidak sejalan bertambah dari 33% menjadi 43%. Para pegawai di perusahaan sadar bahwa pihak pimpinan perusahaan dan karyawan membentuk kepentingan bersama. Dalam hal ini hanya 19% responden beranggapan adanya perbedaan kepentingan. Tapi pengalaman dari lingkungan pribadi ini kini tidak lagi digeneralisasi.

Apa yang mencemaskan penduduk?

Pertanyaan: „Kami pernah bertanya kepada masyarakat apa yang membuat mereka cemas, apa yang membuat mereka merasa terancam. Di kartu-kartu ini tertulis beberapa jawaban. Apakah ada di antara jawaban itu yang mencemaskan Anda, yang membuat Anda terancam?“ (model permainan kartu)

semua keterangan dalam %

Bahwa antara pihak manajemen perusahaan dan karyawan secara umum ada upaya untuk menentukan kepentingan bersama, ini berpengaruh secara langsung terhadap penilaian akan opini tentang perekonomian dalam perdebatan-perdebatan reformasi yang masih terus berlangsung hingga sekarang. Saat ini mayoritas masyarakat mengklasifikasikan opini ini sebagai lobyisme, bukan sebagai saran untuk penguatan posisi Jerman. 62% dari seluruh masyarakat menganggap opini ekonomi sangat erat hubungan dengan kepentingan ekonomi itu sendiri. Hanya 20% responden percaya bahwa pihak perusahaan benar-benar memikirkan perbaikan peluang masa depan negara ini.

Dengan latar belakang ini tidaklah mengejutkan apabila mayoritas mengamati dengan tajam pengaruh ekonomi terhadap keputusan politik.  75% masyarakat menganggap pengaruh ekonomi terhadap kebijakan pemerintah besar atau bahkan sangat besar, 55% mengharapkan pengaruh ini berkurang, 18% menginginkan pengaruh tersebut diperluas.

Meningkatnya keraguan masyarakat tentang apakah rakyat dan perusahaan terikat oleh kepentingan bersama juga mempengaruhi hubungan antara politik dan ekonomi dan menggoyang keyakinan khususnya partai CDU/CSU (Uni Kristen Demokrat/Uni Sosial Demokrat). Partai ini dianggap lebih dekat dengan ekonomi ketimbang SPD (Partai Sosial Demokrat) dan karenanya kurang mewakili kepentingan posisi serikat-serikat buruh. Di mata masyarakat posisi CDU/CSU dalam konflik ketegangan antara pihak serikat buruh dan pemberi kerja jauh lebih jelas, masyarakat menganggap partai ini lebih berpihak pada satu golongan.

Sejak pemilu legislatif 2005 di tubuh CDU/CSU didiskusikan apakah kedekatan dengan pelaku ekonomi dalam lingkungan masyarakat sekarang ini riskan untuk partai rakyat seperti mereka. Salah satu hal yang dibahas adalah keinginan agar partai ini meningkatkan perhatiannya kepada „masyarakat kecil“. Kalau kita memperhatikan opini masyarakat, di sana terlihat jelas: 85% responden menghimbau agar CDU/CSU lebih mengarahkan kebijakannya kepada kepentingan masyarakat kecil. Tapi hanya 14% percaya bahwa hal ini akan terjadi. Dari partai-partai yang duduk di DPR Jerman hanya SPD yang dianggap paling mewakili kepentingan masyarakat kecil: 31% menganggap SPD sebagai wakil masyarakat kecil, 15% mengatakan Partai Kiri, 13% CDU/CSU dan hanya 3% mengatakan Partai Hijau dan FDP (Partai Demokrat Liberal).

Dari hasil jajak pendapat ini bisa disimpulkan bahwa CDU perlu kembali memposisikan dirinya sehingga ada jarak yang lebih jelas dengan ekonomi dan sekaligus lebih berpihak pada posisi sosial demokrat. Akan tetapi, perkembangan popularitas kedua partai yang berkuasa ini jelas bertentangan dengan kesimpulan yang bila dilihat sekilas terkesan logis ini. Partai (SPD) yang dianggap paling mewakili kepentingan masyarakat luas bila dibandingkan dengan partai-partai lainnya sudah sejak lama mandek pada 30%. Dengan kata lain sudah dari dulu persentase masyarakat yang beranggapan seperti ini tidak beranjak dari angka tersebut. Tidak ada indikasi bahwa peran yang disematkan oleh 30% masyarakat ini membuat partai tersebut memperoleh simpati khusus pada pemilih.

Bahkan CDU/CSU jauh berada di depan mitra koalisinya ini dalam jumlah pemilihan suara pertama. Akan tetapi, tingkat simpati partai uni ini sekarang jauh di bawah target yang ditetapkan partai. Bagaimanapun juga, laju ekonomi menyimpan potensi yang besar bagi CDU/CSU. Secara umum partai rakyat yang bermitra dengan SPD dalam memegang tampuk pemerintahan ini beruntung apabila konjunktur dan pasar tenaga kerja berkembang secara positif. Bahwa ini kemudian berpengaruh besar terhadap popularitas CDU/CSU, di satu pihak itu berkaitan dengan diskusi tentang reformasi kesehatan yang begitu membekas di tahun ini. Tapi di lain pihak pengaruh ini juga berkaitan dengan keraguan yang meluas di tengah masyarakat apakah laju pertumbuhan ekonomi tersebut terus bertahan dan pasar tenaga kerja akan terus bergairah. Bagaimanapun juga, perlahan-lahan optimisme masyarakat tumbuh.

Pada akhirnya sebagian besar masyarakat sadar bahwa pertumbuhan ekonomi adalah syarat terpenting bagi masa depan negara ini dan juga bagi realisasi tujuan-tujuan sosial. Kendati ada perasaan yang tidak enak yang meluas di tengah masyarakat tentang proses rasionalisasi di perusahaan-perusahaan dan perubahan ekonomi dalam persaingan global, mayoritas masyarakat yakin bahwa masa depan yang baik tergantung pada perusahaan, lebih besar daripada keputusan politik. Kecurigaan masyarakat apakah ekonomi dan rakyat masih bisa disatukan melalui kepentingan bersama tidak menghilangkan kesadaran mereka akan ketergantungan negara kepada keberhasilan ekonomi.

Inilah alasan mengapa mayoritas konstituen CDU/CSU dan juga sebagian besar dari seluruh rakyat yakin bahwa bila sebuah partai memiliki hubungan erat dengan ekonomi, itu menunjukkan jati diri partai, walaupun ada perasaan tak enak akan pengaruh ekonomi terhadap kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, tidak ada jalan yang mudah bagi CDU/CSU, melainkan tantangan yang makin sulit untuk mencoba mengkombinasikan antara kebutuhan ekonomi dengan tuntutan pada sebuah partai rakyat seperti partai mereka.

Terjemahan grafik 

Kekuatan partai

“Andaikata hari Minggu besok diadakan pemilu legislatif, partai mana yang akan Anda pilih?” (hasil perolehan suara kedua dalam persen)

Seluruh Jerman                           Pemilu Legislatif                                    September 2005

Jerman Barat                                  Pemilu Legislatif                        September 2005

JermanTimur                                      Pemilu Legislatif                      September 2005

Sumber: Institut Kependudukan Allensbach; jajak pendapat terbaru: 1 sampai 12 Desember 2006

 

Keraguan akan sistem sosial

“Apakah sistem ekonomi kita ekonomi pasar sosial atau ia tak benar-benar sosial?”

Sumber: Institut Kependudukan Allensbach

 

 

Copyright © Forum Politisi 2007



 Versi Cetak  Kirim ke Teman Nilai Artikel Ini:
   Rating saat ini: 4 dari 5

Artikel Terkait:
Sebuah Jalan Terkutuk Bernama Liberalisme (Andy Budiman, jurnalis Tempo TV) 06 Juli 2010
Presiden Baru Jerman Dipilih 30 Juni 22 Juni 2010
Perempuan dalam Militer Jerman 22 Januari 2010
Perekonomian Uni Eropa Alami Kemunduran 27 Oktober 2009
Hasil Pemilu Jerman 2009 30 September 2009

Komentar-komentar:
[Belum ada komentar. Anda bisa menjadi yang pertama untuk memberikan komentar mengenai artikel ini.]

Berikan komentar Anda tentang artikel ini::
Nama*
Email*
Website
IP Anda 38.107.191.87
Komentar Anda*
 
   
(c) 2010 Forum-Politisi.org